• screen 1 2
  • prambanan dan jam gadang
  • pura-wayang
  • Sawah dan danau 2
  • pelebon ami 1
  • photo ami 2 fl
  • photo ami 4 klentheng
  • photo ami 5 fl
  • photo ami 6
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi

SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI ASOSIASI MUSEUM INDONESIA (AMI) PUSAT

KEMENTERIAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

(Impian Lama yang Belum Terwujud)

 

Nunus Supardi
Pemerhati Kebudayaan

 

I. PENDAHULUAN

 

Salah satu bidang yang setiap musim kampanye, baik calon legislatif (DPR dan DPRD) maupun calon pejabat eksekutif mulai dari calon bupati dan wakil bupati, calon walikota dan wakil walikota sampai pada calon presiden dan wakil presiden, yang jarang disentuh sebagai materi kampanye adalah masalah kebudayaan. Kalau toh muncul, hanya sebatas kulitnya. Belum terungkap secara menyeluruh tentang arti dan peran kebudayaan, melainkan hanya sebatas kesenian saja. Tidak sampai pada perbincangan mengenai seluruh aspek dan unsur yang terkandung dalam kebudayaan.

 

Masalah-masalah inti yaitu mengenai peran dan posisinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sama sekali tidak tersentuh. Kebudayaan hanya dibicarakan karena memiliki potensi sebagai "daya tarik" yang dapat menggoda iman para turis (asing dan nusantara) untuk datang berkunjung membelanjakan rupiah atau dolarnya.Tidak sampai pada perannya dalam membangun karakter bangsa, menumbuhkan kebanggaan nasional, cinta tanah air, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, mempererat hubungan persahabatan dengan bangsa lain, dll.

 

Kurangnya perhatian itu bisa jadi karena posisi kebudayaan dalam lembaga pemerintah belum menemukan format yang tepat. Setelah 55 tahun disatukan dengan bidang pendidikan, tahun 2000 digabungkan dengan bidang pariwisata. Sepuluh tahun kemudian (2011), karena eksperimen itu dinilai tidak berhasil, maka bidang kebudayaan disatukan kembali dengan bidang pendidikan.

 

Ke depan para calon pejabat ekskutif maupun legislatif perlu didengar visinya tentang kebudayaan baik dalam kehidupan masyarakat maupun dalam pemerintahan. Apalagi, dewasa ini banyak negara berlomba-lomba menempatkan budaya sebagai bagian penting dalam berbagai sektor. Tidak hanya sektor ekonomi tetapi juga sektor sosial, politik, diplomasi, serta pertahanan dan keamanan. Banyak negara kini sedang menerapkan konsep diplomasi "soft power" dan meninggalkan konsep "hard power" dengan memanfaatkan potensi kebudayaannya.

 

II. PERAN STRATEGIS BIDANG KEBUDAYAAN



Bangsa Indonesia lahir setelah ada konsensus politik dari para pendiri bangsa (founding fathers) yang berasal dari berbagai etnik, budaya, dan agama. Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai macam suku bangsa (multietnik) dengan lebih dari 500 suku bangsa dengan budaya yang berbeda (multikultur), memakai bahasa daerah yang berbeda (multibahasa) dengan lebih dari 700 bahasa daerah, multiagama dan kepercayaan, serta multimental. Indonesia beraneka-ragam dan oleh sebab itu disebut sebagai negara-bangsa pluralis terbesar di dunia.

 

Dalam perjalanan „menjadi Indonesia", bangsa Indonesia menghadapi banyak masalah dan tantangan. Bukan hanya persoalan politis atau ekonomis, tetapi juga masalah budaya. Dinamika hubungan antaretnik, antarbudaya (daerah dengan daerah, daerah dengan nasional, dan internasional), antaragama, meninggalkan jejak-jejak masalah yang berpengaruh besar terhadap keutuhan bangsa. Identitas budaya etnik merupakan fenomena budaya yang sering menyebabkan ketegangan dan konflik antarwarga dan antaretnik di Indonesia.

 

Pemahaman terhadap dunia batin Indonesia yang tercipta karena adanya rasa saling pengertian, saling menghormati dan menghargai (toleransi) dan rasa senasib sepenanggungan (empati) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara belum tertanam mendalam. Pembangunan rasa kebangsaan (nation building) dan jati diri bangsa (character building) seperti masih dalam taraf pencarian bentuk.

Untuk menjamin kelanggengan "konsensus" itu, para pendiri bangsa mengamanatkan agar kebudayaan dapat mengambil peran. Amanat itu tertuang dalam Pasal 32 UUD 1945 "Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia". Selanjutnya, setelah diamandemen Pasal 32 ayat (1) berbunyi: "Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kekebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya". Ayat (2) : "Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional".

 

Dari balik Pasal 32 UUD 1945 itu terkandung amanat mengenai 3 arah strategi dalam memajukan kebudayaan bangsa.


Pertama, usaha memajukan kebudayaan bangsa harus menuju ke arah kemajuan peradaban bangsa.


Kedua, usaha kebudayaan harus menuju ke arah semakin kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa.


Ketiga, usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan kebudayaan itu sendiri, baik kemajuan kebudayaan nasional maupun kebudayaan daerah sebagai penanda jati diri bangsa.

 

Sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu, teknologi, dan komunikasi serta perubahan politik dunia, muncul berbagai paradigma baru: desentralisasi, demokrasi, globalisasi, dan krisis multidimensi, dll. Selain itu, bidang kebudayaan telah ditempatkan sebagai "tambang" dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yakni mendukung keberhasilan program bidang pendidikan, pariwisata, dan ekonomi (industri budaya). Ke depan industri budaya akan menjadi jantung utama ekonomi dan menjadi primadona ekonomi global, karena diyakini mampu memberikan kontribusi besar pada perekonomian di Indonesia.


III. POSISI KEBUDAYAAN INDONESIA DALAM KEBUDAYAAN DUNIA

 

Sesuai amanat Pembukaan UUD 1945 kebudayaan Indonesia dituntut untuk ikut melaksanakan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selanjutnya, dalam Pasal 32 ayat (1) diamanatkan agar: "Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kekebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya". Frasa yang berbunyi "...di tengah peradaban dunia..." mengandung makna bahwa kebudayaan Indonesia adalah bagian kebudayaan dunia dan juga bagian peradaban dunia. Dalam kaitan dengan amanat itu ada tugas dan fungsi penting yang harus diurus oleh sebuah Kementerian Kebudayaan.

Pertama, melaksanakan amanat Pembukaan dan Pasal 32 UUD 1945 melalui berbagai upaya untuk membangun persahabatan antarbangsa. Perlu ada pola pengasuhan terhadap penerapan konsep pendekatan budaya sebagai unsur penting dalam pendekatan soft power yang telah dipraktekkan oleh banyak negara. Bidang kebudayaan dituntut untuk berperan dalam menunjang program diplomasi bermatra budaya.

 

Kedua, menyiapkan dan mengurus 10 buah Rumah Budaya Indonesia (RBI) di Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Prancis, Australia, Turki, Jepang, Singapura, Myanmar, dan Timor Leste. Pendirian RBI merupakan upaya membangun hubungan kedua Negara, untuk memperlancar pertukaran pendidikan dan kebudayaan maupun meningkatkan hubungan antarmasyarakat Indonesia dengan masyarakat negara terkait.

 

Ketiga, ikut mengasuh lembaga-lembaga seperti Atase Kebudayaan yang telah didirikan di berbagai negara (Lampiran 1).

 

Keempat, ikut membantu dalam merealisasi kerja sama bilateral di bidang kebudayaan (Cultural Agreement) dengan banyak negara (Lampiran 2).

 

Kelima, menindaklajuti keterlibatan Indonesia dengan berbagai organisasi kebudayaan multilateral atau internasional, seperti: UNESCO, ICOM, ICOMOS, ICROM, ACCU, SPAFA, ASEAN COCI, dll. Untuk itu diperlukan sebuah lembaga setingkat kementerian.

 

Untuk melaksanakan misinya itu, selama ini bidang kebudayaan tidak dapat mengaktualisasikan perannya secara optimal, karena posisi kebudayaan dalam kelembagaan di pemerintahan belum mandiri. Dengan dibentuknya KEMENTERIAN KEBUDAYAAN, bidang kebudayaan akan dapat berdiri sejajar dengan negara-negara lain.

III. IMPIAN LAHIRNYA KEMENTERIAN KEBUDAYAAN DALAM KABINET 2014-2019

Berdasarkan pertimbangan peran dan posisi tersebut para budayawan, seniman, cendekiawan, pemangku adat, tokoh masyarakat memimpikan lahirnya KEMENTERIAN KEBUDAYAAN yang mandiri di Repulik ini. Impian itu sesungguhnya bukanlah hal baru. Sejak bayi Republik ini berusia empat setengah bulan, yaitu pada tanggal 31 Desember 1945 para pendiri bangsa, budayawan, seniman, cendekiawan berkumpul di Sukabumi mengadakan acara "Musyawarah Kebudayaan". Mereka sepakat untuk mengeluarkan rekomendasi agar Pemerintah mengambil tindakan yang tepat, agar selekas mungkin cita-cita Nasional dalam lapangan kebudayaan terwujud dengan mengadakan Kementerian Kebudayaan lepas dari Pendidikan dan Pengajaran.

 

Munculnya usul ini mencerminkan pemikiran yang amat cermat dan mendasar tentang posisi kebudayaan dalam proses "menjadi Indonesia" menuju arah ke depan. Sejak dini diinginkan kebudayaan melalui lembaga kebudayaan di pemerintahan dapat berperan secara optimal dalam melaksanakan ama-nat untuk memajukan kebudayaan nasional sesuai Pasal 32 UUD RI 1945. Juga amanat Pasal 36 tentang bahasa, agar Pemerintah memajukan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah sebagai bagian kebudayaan Indonesia.

Dengan alasan yang tidak diketahui usul itu belum juga mendapatkan tanggapan dari Pemerintah saat itu. Oleh karena itu, pada Kongres Kebudayaan pertama tahun 1948 para peserta kongres kembali meminta Pemerintah agar membentuk Kementerian Kebudayaan. Karena usul itu tidak kunjung dipenuhi juga, maka pada Kongres Kebudayaan 1951, 1954, 1957, 1960, 1991, 2003, dan 2008. Dalam Kongres Kebudayaan tahun 2013 yang lalu di Yogyakarta, usul itu kembali disampaikan.

 

Keinginan itu juga didukung oleh peserta Kongres Kebudayaan saja. Impian itu disampaikan juga oleh Konferensi Kebudayaan 1950, Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia 1964, Kongres Kesenian tahun 1995 dan 2005 dan Kongres Dewan Kesenian 2004 serta Kongres Penghayat Kepercayaan, Adat dan Nilai Budaya tahun 2012.

IV. LANDASAN PEMBENTUKAN KEMENETRIAN KEBUDAYAAN

Seperti diuraikan di atas, para budayawan, seniman, cendekiawan, pemangku adat, tokoh masyarakat, lembaga-lembaga kebudayaan di masyarakat sangat mendukung dibentuknya Kementerian Kebudayaan. Para wakil rakyat di DPR telah sepakat untuk menyetujui disahkannya UU No. 39/2008 tentang Kementerian Negara. UU ini tentu akan menjadi landasan dalam penyusunan kabinet 2014-2019 nanti. Karena bidang kebudayaan disebutkan dengan jelas masuk dalam ruang lingkup UUD Negara RI 1945 (Pasal 32 dan 36), maka bidang kebudayaan merupakan urusan pemerintahan (kabinet) yang akan datang.

 

Seperti disebutkan dalam Pasal 5 ayat (2) UU No. 39/2008 bidang kebudayaan merupakan bidang tugas yang berdiri sendiri. Kutipan lengkap dari ayat tersebut adalah sebagai berikut:
"Urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf b meliputi urusan agama, hukum, keuangan, keamanan, hak asasi manusia, pendidikan, kebudayaan, kesehatan, sosial, ketenagakerjaan, industri, perdagangan, pertambangan, energi, pekerjaan umum, transmigrasi, transportasi, informasi, komunikasi, pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, kelautan, dan perikanan.

 

Penetapan bidang kebudayaan secara mandiri dalam ayat ini menjadi landasan untuk memenuhi impian dibentuknya KEMENTERIAN KEBUDAYAAN. Dengan demikian bidang kebudayaan akan dapat berdiri sejajar dengan bidang lainnya yang ruang lingkupnya sama-sama disebutkan dalam UUD 1945.

 

V. POSISI KEBUDAYAAN DALAM KABINET DI NEGARA-NEGARA LAIN

 

Sebagai bahan bandingan ada baiknya menengok kebijakan Negara-negara lain dalam menempatkan bidang kebudayaan dalam kabinet. Berdasarkan data UNESCO pada 2006, jumlah Negara yang menjadi anggota sebanyak 192 negara. Jika negara-negara yang menempatkan bidang kebudayaan secara mandiri dalam bentuk "kementerian", "departemen", atau bentuk lembaga lain itu dijumlahkan, maka seluruhnya berjumlah 86 negara atau telah ada 44, 8%. Model-model tersebut dapat dikelompokkan menjadi lima macam.

 

Pertama, ada sebanyak 65 negara yang membentuk kementerian kebudayaan dengan nomenklatur "ministry" (Ministry for Culture) secara mandiri atau sebanyak 33, 8% dari 192 negara anggota UNESCO.

 

Kedua, negara yang membentuk lembaga dengan nomenklatur "departement" (Department for Culture) yang mandiri hanya empat negara atau hanya 2% dari seluruh negara anggota.

 

Ketiga, beberapa negara menempatkan kebudayaan berdiri sendiri, tidak dalam bentuk "kementerian" atau "departemen", tetapi dalam bentuk lain, seperti (1) national culture foundation, 1 negara; (2) institute (arts atau culture) di 3 negara; (3) council, 6 negara; (4) commission (komisi), 1 negara; (5) state agency, 1 negara; (6) secretaria, 1 negara; (7) office, 1 negara; dan (8) centre (centre of culture), di 3 negara. Jumlah seluruhnya ada 16 negara atau sebanyak 8,3%.

 

Keempat, negara Amerika Serikat mempunyai model tersendiri, tidak memiliki kementerian atau departemen yang mengurus kebudayaan, tetapi ditangani oleh empat lembaga. Lembaga yang dimaksud adalah (1) Institute of Museum and Libraries Services; (2) National Endowment for the Arts; (3) National Endowment for the Humanities; dan (4) President's Committee on the Arts and Humanities.

 

Kelima, sisanya sebanyak 103 negara (55, 2%), menempatkan kebudayaan bergabung dengan bidang lain, seperti dengan pendidikan, pariwisata, pemuda, olahraga, media, komunikasi, dan perempuan, serta tiga negara yang belum ditemukan datanya.

 

Hal lain yang cukup menarik, di beberapa negara meskipun tergolong negara kecil seperti negara-negara di Afrika dan negara-negara pecahan dari Rusia dan Cekoslowakia, telah menempatkan bidang kebudayaan dalam kementerian yang mandiri. Dari 192 negara itu ada sejumlah negara yang menetapkan kebijakan yang sama, hampir sama dan ada yang berbeda dalam menempatkan kebudayaan dalam kelembagaan dalam pemerintahan.

 

Jika disimpulkan, negara-negara yang menempatkan bidang kebudayaan secara mandiri dalam bentuk "kementerian", "departemen", atau bentuk lembaga lain dijumlahkan, maka seluruhnya adalah 86 negara atau telah ada 44, 8%. Meskipun Indonesia negara pluralis, multietnik, multikultur, multibahasa dan multimental, serta telah merdeka selama hampir 70 tahun tetapi belum pernah memiliki Kementerian Kebudayaan tersendiri.

 

VI. KESIMPULAN

 

"Impian" yang lahir sejak awal kemerdekaan itu sangat wajar dan rasional bagi sebuah bangsa yang multietnik, multikultur, multibahasa, multiagama, dan multimental terbesar di dunia. Jalan yang harus ditempuh oleh "impian" itu sudah cukup panjang. Deretan nama-nama budayawan, seniman, tokoh masyarakat dan juga pejabat yang mendukung lahirnya Kementerian Kebudayaan sudah sangat panjang: dr. Bahder Djohan, Muhammad Yamin, Herawati Diah, Prof. Dr. Fuad Hassan, Prof. Dr. Daoed Joesoef, Prof. Dr. RP Sujono, Prof. Dr. Tutie Heraty, Rahman Arge, Dr. Anhar Gonggong, Garin Nugroho, Ignas Kleden, Prof. Dr. Mudji Sutrisno, Putu Wijaya, Drs. Saini KM, Prof. Dr. Sri Hastanto, Prof. Dr. Susanto Zuhdi, Prof. Dr. Taufik Abdullah , Dr. Taufiq Ismail, dll.

 

Kinilah saatnya impian itu diwujudkan. Dengan bekal amanat Pasal 32 dan 36 UUD 1945, berbagai pengalaman dalam menjalani proses "menjadi Indonesia". Selama hampir 70 tahun, munculnya berbagai paradigma baru, faktor pendukung yang telah tersedia (UU No. 39/2008), telah cukup untuk menjadi dasar pertimbangan.

 

Pembentukan Kementerian Kebudayaan pada Kabinet 2014-2019 akan menjadi catatan penting bagi perjalanan sejarah kelembagaan kebudayaan di pemerintahan. Juga bersejarah bagi siapa pun yang akan memimpin negara ini pada periode 2014-2019.

 

 

Jakarta, 17 April 2014

 

 

MELUHURKAN MUSEUM, MEMULIAKAN KEBUDAYAAN



-Kutipan pernyataan Putu Supadma Rudana (Ketua Umum AMI), dihadapan Para  Ibu Negara serangkaian Spouse Program KTT ASEAN, 18 November 2011-

 

 

 

RAPIMNAS AMI 2015

  • IMG-20151108-WA0005
  • IMG-20151108-WA0006
  • IMG-20151108-WA0009
  • IMG-20151108-WA0010
  • IMG-20151108-WA0013
  • IMG-20151108-WA0014
  • IMG-20151108-WA0008
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...

Kilas Pandang AMI

SELAYANG PANDANG MUNAS III ASOSIASI MUSEUM INDONESIA(AMI) & ANJANGSANA MUSEUM KETUA UMUM TERPILIH

Kilas Lintas Rakor AMIDA

  • IMG 4560
  • IMG 4485
  • IMG 4532
  • IMG 4589
  • IMG 4611
  • IMG 4614
  • IMG 4616
  • IMG 4621
  • IMG 4636
  • IMG 4637
  • IMG 4790
  • IMG 4800
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......

Dari Kami

  • Keluarga Besar Asosiasi Museum Indonesia Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H.
    Semoga damai senantiasa menyertai kita. Salam Museum Di Hatiku.
  • Ingin tahu rumah budaya bangsa di seluruh Indonesia?
    Silakan klik:
     Profil Museum

logo AMI

Berbagi Melalui Media AMI

  • Buletin AMI Depan

  • AMI -final 10042015 checked-page-001

  • Teaser Media AMI



  • Ingin Media AMI dikirimkan ke museum/instansi Anda?

    Kabarkan kepada redaksi melalui:

    This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • Silakan Baca Media AMI edisi 2014. Unduh tersedia di sini.
  • Silakan Baca Media AMI edisi 2015. Unduh tersedia di sini.
  • Silakan Baca Media AMI edisi 2016. Unduh tersedia di sini.

Kertas Kerja Permuseuman

  • Teaser Presentasi Ketum AMI
  • Slide01
  • Teaser Presentasi AMIDA Sulawesi
  • Presentasi dari Ketua Umum AMI. Paparan arah kebijakan organisasi.
  • Paparan dalam kegiatan Rapat Kerja Kementerian Koordinator Maritim, Banten - Mei 2016.
  • Aspirasi dari AMIDA Sulawesi. Gagasan pengembangan permuseuman di daerah.

Paparan Para Pakar

  • Slide1
  • Teaser Presentasi Jefri Riwu Kore
  • Teaser Presentasi Harry Widianto
  • Teaser Presentasi Roy Suryo
  • Teaser Presentasi Firmansyah Lubis
  • Unduh makalah dari Komisi X DPR-RI, Ridwan Hisjam. Perspektif strategis perkembangan permuseuman.
  • Unduh makalah dari Komisi X DPR-RI, Jefirstson Riwu Kore. Pandangan mendalam atas museum di Nusantara.
  • Unduh presentasi dari Direktur PCBM Kemdikbud RI, Harry Widianto. Deskripsi komprehensif permuseuman kita.
  • Unduh paparan pakar telekomunikasi, Roy Suryo. Kemungkinan implementasi teknologi digital bagi kemajuan museum.
  • Unduh makalah dari Direktur e-Government, Firmansyah Lubis. Pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan museum.

AGENDA AMIDA

  • IMG-20151117-WA0007IMG-20151117-WA0008



Maestro

  • Obituari Taufiq Kiemas 
    (31 Desember 1942 - 8 Juni  2013)

    Obituari Taufiq kiemas
    Berpulang ke haribaan Tuhan, Bapak Taufik Kiemas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia. Kita kehilangan suri tauladan yang memuliakan bangsa.
  • OBITUARI MOH. AMIR SUTAARGA 
    (5 Maret 1928—1 Juni 2013)

    amir sutaargaKalangan permuseuman dan juga kebudayaan Indonesia kehilangan salah satu tokoh mumpuni, Moh Amir Sutaarga. Beliau berpulang kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa pada 1 Juni 2013 pukul 08.05 WIB di Jakarta. 

  • OBITUARI GATHUT DWI HASTORO 
    (3 Mei 1964 - 29 Maret 2016)

    224046 107043152717835 1902923 nTelah berpulang, Bapak Gathut Dwi Hastoro, Ketua AMIDA DKI Jakarta "Paramita Jaya", pada Selasa, 29 Maret 2016 sekitar pukul 21.10 WIB. Beliau yang juga lama mengabdi sebagai Ketua UPK Kota Tua Jakarta merupakan sosok pejuang dan pengabdi permuseuman Indonesia. 
  • Obituari Tri Prastiyo

    Tri PrastiyoKeluarga permuseuman Indonesia kembali kehilangan. Salah satu pejuang museum yang selama ini dikenal berdedikasi dalam mengelola Museum Kereta Api Ambarawa, Tri Prastiyo, dikabarkan berpulang ke sisi Tuhan Yang Maha Esa pada April 2016.
     

JELAJAH

Ingin Penelitian Rawa? Datang saja ke Museum Rawa Indonesia

 

Tahun 1993, Rubiyanto H Susanto, saat kali pertama melakukan penelitian mengenai rawa di Sumatera Selatan, mengalami kesulitan mendapatkan data. Pengalaman tersebut lantas mendorong guru besar dari Universitas Sriwijaya ini mendirikan museum mengenai rawa. Selengkapnya ....

 


Jalan-Jalan ke Museum Trinil, Yuk...

 

Madiunpos.com, NGAWI – Ada beberapa tempat di Indonesia yang memamerkan kehidupan pada masa prasejarah. Museum Trinil adalah salah satu tempat yang menampilkan kehidupan masa prasejarah itu dan menjadi andalan pariwisata Ngawi. Selengkapnya ....

Prasasti

PRASASTI ULUBELU

 

Prasasti Ulubelu adalah salah satu dari prasasti yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sunda dari abad ke-15 M, yang ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung, Lampung pada tahun 1936. Prasasti Ulubelu saat ini disimpan di Museum Nasional, dengan nomor inventaris D.154.Read more ....

 

Tutur Luhur

  • Ir. Soekarno

     Ir SoekarnoAlangkah terharunja hati saja tatkala saja mengundjungi suatu museum di Mexico-city. Museum itu ialah museum Sedjarah Perdjoangan Nasional Mexico. Saja terharu Read more......
  • Susilo Bambang Yudhoyono

    sby pidato Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT karena pada sore hari ini kita dapat menyaksikan Peresmian Museum Jenderal Besar Doktor Abdul Haris Nasution sebagai Read more .....
  • Sir Rudolf Bing

    Pada galibnya, kita serupa dengan museum. Aku juga terpanggil mempersembahkan karya masterpiece dalam sentuhan modern.
  • Pablo Picasso 


    Berilah aku sebuah museum dan aku akan mengisinya dengan karya adiluhung

Kabar Museum

Gelar Pertemuan Nasional, AMI Bahas Managemen Pengelolaan Museum

Gelar Pertemuan Nasional, AMI Bahas Managemen Pengelolaan Museum

 

Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan Kebudayaan menggelar Pertemuan Nasional Museum, yang bertema Museum Sebagai Sumber Belajar dan Pendidikan Karakter Bangsa di Yogyakarta 16 – 19 Mei 2017 di hotel Sahid Rich Yogyakarta.

Read more...

400 Pengelola Museum Bahas Permuseuman di Indonesia

400 Pengelola Museum Bahas Permuseuman di Indonesia

 

Indonesia memiliki ratusan museum baik yang dikelola pemerintah, swasta maupun perorangan. Namun banyak museum yang kondisinya kurang perhatian dan jarang dikunjungi masyarakat. Masalah managemen pengelolaan menjadi masalah penting bagi museum di Indonesia.

Read more...

Jogja Tuan Rumah Pertemuan Nasional Museum Se-Indonesia 2017

Jogja Tuan Rumah Pertemuan Nasional Museum Se-Indonesia 2017

 

Jogjakarta menjadi tuan rumah Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia 2017. Acara yang digelar Sahid Rich Hotel, Jalan Magelang, 16-19 Mei ini diselenggarakan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kerja sama dengan Pemprov DIJ dan Asosiasi Museum Indonesia (AMI).

Read more...

Indonesia Bisa Contoh Singapura dan Eropa Kembangkan Museum

Indonesia Bisa Contoh Singapura dan Eropa Kembangkan Museum

Komisi X DPR memberikan catatan kepada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud mengenai perkembangan museum. Salah satunya mengenai data dan informasi Lembaga museum bagi masyarakat.

Read more...

Liburan Natal, Museum Brawijaya Jadi Perhatian Khusus Para Wisatawan

Liburan Natal, Museum Brawijaya Jadi Perhatian Khusus Para Wisatawan

 

MALANGTIMES - Liburan Natal dan Tahun Baru tahun ini, Kota Malang dibanjiri wisatawan dari berbagai daerah. Banyak tempat di Kota Malang yang menjadi perhatian khusus para wisatawan. Salah satunya adalah Museum Brawijaya Malang.

Read more...

12 TAHUN TSUNAMI ACEH: Peringati 12 Tahun, Museum Tsunami Dibuka Malam Hari

12 TAHUN TSUNAMI ACEH:

Peringati 12 Tahun, Museum Tsunami Dibuka Malam Hari

 

GEMPA dan tsunami di Aceh yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 silam sudah lewat 12 tahun. Meski telah berlalu, tetapi ini tidak layak untuk dilupakan begitu saja. 

Read more...

Dinobatkan Jadi Bapak Permuseuman Indonesia, SBY Bicara Cinta Sejarah

Dinobatkan Jadi Bapak Permuseuman Indonesia, SBY Bicara Cinta Sejarah

Jakarta - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianugerahi gelar oleh Asosiasi Museum Indonesia (AMI) sebagai Bapak Permuseuman Indonesia. Penghargaan ini diberikan karena kontribusinya dalam mengawal perkembangan museum Nusantara.

Read more...

Kehadiran Museum Belum Sentuh Masyarakat Secara Luas

Kehadiran Museum Belum Sentuh Masyarakat Secara Luas

 

Saat ini museum belum bisa memberikan manfaat banyak kepada masyarakat. Foktor penyebabnya museum belum bisa mengkomunikasikan secara baik kepada lingkungan.

Read more...

Titik Pandang

MEMULIAKAN KEINDONESIAAN KITA

Oleh : Supadma Rudana*

 

Salam Bhinneka Tunggal Ika

 

Ketum AMIMedia sederhana ini merupakan bagian dari pelaksanaan program dan agenda Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Pusat yang bermuara pada satu sasaran utama, yakni pembangunan karakter dan pekerti bangsa (nation and character building) sebagai landasan terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil, makmur, bermartabat, semulia cita-cita para founding father. Read more ....

Ulas Gagasan

KEMENTERIAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
(Impian Lama yang Belum Terwujud)

Oleh : Nunus Supardi (Pemerhati Kebudayaan)

 

 

Salah satu bidang yang setiap musim kampanye, baik calon legislatif (DPR dan DPRD) maupun calon pejabat eksekutif mulai dari calon bupati dan wakil bupati, calon walikota dan wakil walikota sampai pada calon presiden dan wakil presiden, yang jarang disentuh sebagai materi kampanye adalah masalah kebudayaan. Kalau toh muncul, hanya sebatas kulitnya. Belum terungkap secara menyeluruh tentang arti dan peran kebudayaan, melainkan hanya sebatas kesenian saja. Tidak sampai pada perbincangan mengenai seluruh aspek dan unsur yang terkandung dalam kebudayaan. Read More....

 

Ikuti Kami di :

facebook icon Ami Pusat atau 

 Twitter-Vector-Icon@asosiasimuseum