• screen 1 2
  • prambanan dan jam gadang
  • pura-wayang
  • Sawah dan danau 2
  • pelebon ami 1
  • photo ami 2 fl
  • photo ami 4 klentheng
  • photo ami 5 fl
  • photo ami 6
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi

SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI ASOSIASI MUSEUM INDONESIA (AMI) PUSAT

Liputan Budaya:

Batik, Yang Tak Lekang dari Pekalongan

 

Mengakhiri bulan Juli 2016, Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana, melakukan anjangsana ke Kota Batik Pekalongan (30/07). Didampingi Bendahara Umum, Waluyono, kunjungan ini sekaligus juga untuk memaknai sepuluh tahun keberadaan Museum Batik Pekalongan, yang pada 12 Juli 2006 lalu diresmikan pendiriannya oleh Presiden RI keenam, Bapak Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Tim Media AMI yang turut serta dalam anjangsana ini mendokumentasikan kegiatan ini, termasuk acara diundangnya Ketua Umum AMI dalam dialog budaya yang diselenggarakan Museum Batik Pekalongan, bertajuk "Batik Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan."

 

P1015271  web

Gerimis tipis menyambut kami di stasiun ketibaan petang itu. Tanpa terasa perjalanan selama lima jam dari Jakarta pun telah tertunaikan, sampai dengan selamat di tujuan, di sebuah kota yang kaya dengan warisan sejarah, wujud kebudayaan, sekaligus nuansa kebersahajaan masyarakat pesisir pantai utara Jawa, yaitu Pekalongan.


Masih menggunakan ransel hitam sederhana, Ketua Umum AMI, Putu Rudana, berdiri antri di pintu keluar stasiun. Di sebelahnya, Waluyono yang juga dipercaya sebagai Bendahara Umum, berkali mencoba menelepon dan berkirim pesan, hingga panggilannya terjawab oleh seseorang di seberang sambungan. "Selamat malam, Pak Puji, kami sudah sampai Pekalongan. Semoga bisa silaturahmi dengan kawan-kawan," ujar Waluyono. Begitulah, Puji Joharnoto, Ketua AMIDA Jawa Tengah, menyampaikan posisi terkininya dan berjanji akan menemui kami segera.


Beberapa pria menawarkan jasa tumpangan becak. Satu dua orang menanyakan lokasi tujuan kami dalam kalimat-kalimat singkat. Tatap mata penuh pengharapan tersirat pada wajah mereka—ada yang berezeki baik mendapat penumpang, ada yang masih mencoba berdiri menanti peruntungan. Ketika melewati jalanan yang remang di pelataran parkir, gerimis mulai menitik dan membuat kami mempercepat langkah untuk menyeberang jalan ke arah penginapan.


Persis di pinggir trotoar, seorang tukang becak sedang terlelap, tanpa memedulikan deru dan klakson kendaraan—apakah itu bus malam lintas Jawa atau truk besar bemuatan aneka barang—yang berulang melintas jalan ramai itu. Di sana sini, dalam linangan cahaya lampu iklan maupun penerangan dari deretan pertokoan, terlihat rumah-rumah usaha yang masih buka: toko serba ada, penginapan aneka kelas, sampai angkringan sederhana yang menyajikan berbagai menu makanan.


Pada saat itulah, selintas suasana bersahaja seketika tersirat, yang sekaligus mencerminkan arus perubahaan kota Pekalongan: antara denyut tradisi dalam laju kendaraan becak yang selama ini mencoba bertahan dan riuh kekinian yang tergambar dari mobilitas jalur Pantura; Pekalongan di masa lalu yang bersisian dengan Pekalongan yang sekarang, dan menyisakan pertanyaan seperti apakah kemudian keadaan kota ini bertahun-tahun kelak kemudian?


Apakah ini kebetulan? Besok pagi kami akan mengikuti suatu diskusi kebudayaan dengan tema yang hampir serupa dengan suasana yang baru saja dijumpai petang itu: Batik Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan.
Kebetulan atau bukan, pengalaman anjangsana di Pekalongan kali ini pastilah akan memberi makna tersendiri bagi kami.


Boleh dibilang, ini merupakan kunjungan kedua Putu Rudana ke Pekalongan. Sebagai seorang pecinta permuseuman, dia merasa kehadirannya kali ini ke kota budaya ini memiliki makna tersendiri, terlebih karena kedatangannya tak lain demi turut memaknai sepuluh tahun kehadiran Museum Batik Pekalongan. Sebelumnya, Ketua Umum AMI ini berkunjung pada Maret 2016, serangkaian dialog permuseuman yang digelar institusi yang serupa.

P1015315 web


"Waktu itu, dalam kesempatan yang sekilas, seusai menjadi pembicara di kegiatan tersebut, saya diundang berkeliling Museum Batik juga daerah-daerah di sekitarnya. Persoalan yang sama pun dijumpai di Museum ini. Kondisi insfrastrukur yang membutuhkan penanganan segera, penataan koleksi batik berikut dokumentasi utuh atas khazanah kebudayaan ini, hingga pengembangan lingkungan museum yang kondusif," tutur Putu Rudana mengenang pengalaman kunjungannya yang terdahulu. Kami sedang berkeliling kota Pekalongan, bersama Puji Joharnoto yang khusus datang dari Semarang. Menyusuri malam di kota ini, dalam cuaca lembab dingin di kota pesisiran, menyaksikan degup hidup para penduduk yang masih terjaga dan berkendara di jalan-jalan, sungguh hal yang mengesankan.


"Oya, ada satu hal yang mungkin perlu disampaikan," tambahnya kemudian, "Sejak itu saya punya pengharapan, bahwa batik harus menjadi trade-mark kota ini. Harus ada kebijakan komprehensif dalam melestarikan dan mengembangkan batik. Bila perlu, ketika seseorang menjelang masuk ke kota, dia dapat merasakan nuansa khas daerah ini. Sebab dalam perjalanan sejarahnya, batik bukan hanya wujud luhur kebudayaan, melainkan tentu telah merasuk menjadi filosofi masyarakat Kota Pekalongan."

 

Dari Ruang Diskusi


Hujan yang semalaman menderas di seluruh kota Pekalongan ternyata memberikan suasana teduh di pagi keesokan harinya. Tepat pukul 09.00, Dewa, seorang staf dari Museum Batik Pekalongan menjemput kami untuk bersama-sama ke lokasi acara.

 

P1015300 web

"Kita akan menuju Gedung Walikota Pekalongan," jelasnya setelah memperkenalkan diri dan menanyakan kabar kami. "Semoga Bapak semua berkesan dengan kota kami yang sederhana ini," katanya.


Apa yang kami saksikan di malam sebelumnya, kesan kebersahajaan kota Pekalongan, tergambar kembali di pagi hari ini. Kami melintasi jalan-jalan kecil menuju lokasi kegiatan, yang sebelumnya dijadwalkan di Rumah Jabatan Bakorwil III—sekitar Karesidenan Pekalongan—diganti ke Kantor Walikota Pekalongan atas dukungan Pemerintah setempat. Mobil tak dapat melaju kencang sebab selalu ada pesepeda atau tukang becak yang melintas. Tidak sekalipun mereka bersinggungan dengan kendaraan bermotor yang ikut menyusuri jalanan ini. Suatu keselarasan yang khas seolah telah menyatu di antara mereka.


Tanti Lusiani, Kepala Museum Batik Pekalongan, menyambut kedatangan narasumber bincang budaya. Sapaannya terkesan hangat, seraya sekilas mengisahkan pendirian Museum Batik Pekalongan berikut tantangan yang dihadapinya. "Sekarang Pemda setempat memberikan perhatian yang lebih baik. Kami diberikan kesempatan melaksanakan program secara berkesinambungan," ujarnya sambil mempersilakan para Narasumber singgah sebentar di suatu ruangan di dalam kawasan kantor Walikota tersebut. Telah hadir di sana para tokoh sejarah dan figur kebudayaan dari Pekalongan yang selama ini terbilang intens mengedukasi publik atas peran penting batik dan pemaknaannya bagi kota ini, di antaranya Afif Syakur (fashion designer), Romi Okta Birawa (Sejarawan Batik) serta Dudung Ali Syahbana (Budayawan). Kedua moderator, Zahir Widadi dan Bambang Wijanarko terlihat antusias berdiskusi dengan Tanti Lusiani sebelum kemudian memberikan sedikit kemungkinan pendalaman bahan yang bisa disampaikan kepada para peserta bincang budaya.


Acara diskusi pun berlangsung amat menarik. Tiap pembicara menyampaikan pandangannya berdasar pada pengalaman dan wawasannya masing-masing. Tampil sebagai pembicara pertama, Putu Rudana mengawali paparannya dengan menyampaikan kesannya atas Kota Pekalongan. Baginya, Pekalongan dengan ragam batiknya yang khas memiliki potensi pengembangan yang tidak terkira. "Kebersahajaan Pekalongan dan batiknya yang menawan perlu dipadukan secara utuh. Pekalongan harus berani mentransformasi dirinya menjadi kota batik yang dikenal dunia mancanegara. Agar bisa menjadi the city world of batik...." tambahnya merespon telah dikukuhkannya batik sebagai salah satu World Heritage oleh UNESCO.

P1015319 webDia menambahkan bahwa batik juga harus dilihat dalam perspektif kualitas, bukan sebagai komoditas. Di masa lalu batik telah hadir sebagai milik bersama, mencirikan nilai komunal masyarakat pada masa itu, dan menurutnya di masa kini batik pun harus menjadi salah satu ciri dari bangsa Indonesia di mana Pekalongan menjadi satu sentra utamanya, bersama-sama dengan daerah Yogyakarta, Solo dan sebagainya. "Antara tradisi dan kreasi mesti dikembangkan seiring-sejalan. Tradisi bertujuan memuliakan kebudayaan dan warisan sejarah kita, sekaligus kemungkinan pembelajaran bagi generasi berikutnya. Sedangkan kreasi mendorong kita untuk sigap-tanggap menghadapi perubahan, supaya kita melulu tergerus dalam arus kekinian. Dan museum, sebagai rumah budaya dan peradaban negeri ini, memberi peluang bagi dua hal ini, yakni melestarikan tradisi dan mengakomodir kreasi," tegasnya.

 

Batik sebagai Proses Bertumbuh
Giliran selanjutnya, Afif Syakur, menjelaskan secara komprehensif sejarah dari motif-motif batik Pekalongan yang khas itu, secara menambahkan catatan penting, "Mulanya batik adalah buah cipta masyarakat, milik rakyat yang kemudian dikembangkan oleh pihak keraton. Dia kini menjadi milik kita semua, dan karenanya kita, siapapun wajib untuk melestarikannya."


Hal serupa juga disampaikan oleh Romi Okta Birawa, yang menjelaskan peran batik dari masa lalu sampai sekarang, khususnya dalam hal perekonomian dan kebudayaan. Dia menuturkan peluang-peluang batik sebagai buah cipta kreatif yang mendukung masyarakat dari sisi ekonomi. Sementara Dudung Ali Syahbana, seorang budayawan yang tampil cergas dan lugas, mengangkat esensi batik dalam lintasan historisnya dengan menekankan poin kunci, "Batik jangan hanya dilihat dari kesadaran materi. Bila ini yang dikedepankan, maka bahasan batik hanya berhenti pada soal motif dan bentuk, atau bahkan sebagai daya ekonomis. Batik harus dilihat dari kesadaran batin, di mana dengan demikian kita akan menemukan nilai hakiki dari batik. Apa nilai hakiki itu? Tidak lain adalah kesabaran, ketulusan, daya penciptaan, hingga penghormatan atas kebudayaan...."


Sebagai penutup paparannya, menjelang akhir bincang budaya, Putu Rudana menyampaikan satu hal. Di tengah era keterbukaan ini, di mana dunia lokal bersentuhan nyata dengan kehidupan global, antara tradisi dan kemodernan yang makin bersisian dan bahkan bersinggungan, dia bertanya, bagaimana kita bisa memastikan pelestarian dan pengembangan batik agar berjalan seiring-sejalan.


"Kita perlu memahami sejarahnya, juga wujud-wujud perkembangannya. Kita membutuhkan dokumentasi yang merekam ragamnya, dan dengan itu kita memahami bahwa batik pun mewakili proses kita bertumbuh sebagai suatu entitas bersama. Dari situlah kita akan memandang batik sebagai suatu nilai, hal yang mengilhami kreasi-kreasi kita selanjutnya, hingga jauh ke masa depan," ungkapnya sebelum melanjutkan, "Maka dengandemikianlah, batik pun menjadi tanggungjawab seluruh generasi kita. Dari dahulu, kini, sampai nanti."

 

Batik, suatu khazanah budaya yang selama ini terbukti berhasil melintas generasi, memang membutuhkan perhatian kita semua. Agar dia tetap lestari. Agar dia tak lekang dari tanah Pekalongan, salah satu rumah muasalnya yang bersahaja ini.

 

 

 

 

MELUHURKAN MUSEUM, MEMULIAKAN KEBUDAYAAN



-Kutipan pernyataan Putu Supadma Rudana (Ketua Umum AMI), dihadapan Para  Ibu Negara serangkaian Spouse Program KTT ASEAN, 18 November 2011-

 

 

 

RAPIMNAS AMI 2015

  • IMG-20151108-WA0005
  • IMG-20151108-WA0006
  • IMG-20151108-WA0009
  • IMG-20151108-WA0010
  • IMG-20151108-WA0013
  • IMG-20151108-WA0014
  • IMG-20151108-WA0008
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...

Kilas Pandang AMI

SELAYANG PANDANG MUNAS III ASOSIASI MUSEUM INDONESIA(AMI) & ANJANGSANA MUSEUM KETUA UMUM TERPILIH

Kilas Lintas Rakor AMIDA

  • IMG 4560
  • IMG 4485
  • IMG 4532
  • IMG 4589
  • IMG 4611
  • IMG 4614
  • IMG 4616
  • IMG 4621
  • IMG 4636
  • IMG 4637
  • IMG 4790
  • IMG 4800
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......

Dari Kami

  • Keluarga Besar Asosiasi Museum Indonesia Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H.
    Semoga damai senantiasa menyertai kita. Salam Museum Di Hatiku.
  • Ingin tahu rumah budaya bangsa di seluruh Indonesia?
    Silakan klik:
     Profil Museum

logo AMI

Berbagi Melalui Media AMI

  • Buletin AMI Depan

  • AMI -final 10042015 checked-page-001

  • Teaser Media AMI



  • Ingin Media AMI dikirimkan ke museum/instansi Anda?

    Kabarkan kepada redaksi melalui:

    This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • Silakan Baca Media AMI edisi 2014. Unduh tersedia di sini.
  • Silakan Baca Media AMI edisi 2015. Unduh tersedia di sini.
  • Silakan Baca Media AMI edisi 2016. Unduh tersedia di sini.

Kertas Kerja Permuseuman

  • Teaser Presentasi Ketum AMI
  • Slide01
  • Teaser Presentasi AMIDA Sulawesi
  • Presentasi dari Ketua Umum AMI. Paparan arah kebijakan organisasi.
  • Paparan dalam kegiatan Rapat Kerja Kementerian Koordinator Maritim, Banten - Mei 2016.
  • Aspirasi dari AMIDA Sulawesi. Gagasan pengembangan permuseuman di daerah.

Paparan Para Pakar

  • Slide1
  • Teaser Presentasi Jefri Riwu Kore
  • Teaser Presentasi Harry Widianto
  • Teaser Presentasi Roy Suryo
  • Teaser Presentasi Firmansyah Lubis
  • Unduh makalah dari Komisi X DPR-RI, Ridwan Hisjam. Perspektif strategis perkembangan permuseuman.
  • Unduh makalah dari Komisi X DPR-RI, Jefirstson Riwu Kore. Pandangan mendalam atas museum di Nusantara.
  • Unduh presentasi dari Direktur PCBM Kemdikbud RI, Harry Widianto. Deskripsi komprehensif permuseuman kita.
  • Unduh paparan pakar telekomunikasi, Roy Suryo. Kemungkinan implementasi teknologi digital bagi kemajuan museum.
  • Unduh makalah dari Direktur e-Government, Firmansyah Lubis. Pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan museum.

AGENDA AMIDA

  • IMG-20151117-WA0007IMG-20151117-WA0008



Maestro

  • Obituari Taufiq Kiemas 
    (31 Desember 1942 - 8 Juni  2013)

    Obituari Taufiq kiemas
    Berpulang ke haribaan Tuhan, Bapak Taufik Kiemas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia. Kita kehilangan suri tauladan yang memuliakan bangsa.
  • OBITUARI MOH. AMIR SUTAARGA 
    (5 Maret 1928—1 Juni 2013)

    amir sutaargaKalangan permuseuman dan juga kebudayaan Indonesia kehilangan salah satu tokoh mumpuni, Moh Amir Sutaarga. Beliau berpulang kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa pada 1 Juni 2013 pukul 08.05 WIB di Jakarta. 

  • OBITUARI GATHUT DWI HASTORO 
    (3 Mei 1964 - 29 Maret 2016)

    224046 107043152717835 1902923 nTelah berpulang, Bapak Gathut Dwi Hastoro, Ketua AMIDA DKI Jakarta "Paramita Jaya", pada Selasa, 29 Maret 2016 sekitar pukul 21.10 WIB. Beliau yang juga lama mengabdi sebagai Ketua UPK Kota Tua Jakarta merupakan sosok pejuang dan pengabdi permuseuman Indonesia. 
  • Obituari Tri Prastiyo

    Tri PrastiyoKeluarga permuseuman Indonesia kembali kehilangan. Salah satu pejuang museum yang selama ini dikenal berdedikasi dalam mengelola Museum Kereta Api Ambarawa, Tri Prastiyo, dikabarkan berpulang ke sisi Tuhan Yang Maha Esa pada April 2016.
     

JELAJAH

Ingin Penelitian Rawa? Datang saja ke Museum Rawa Indonesia

 

Tahun 1993, Rubiyanto H Susanto, saat kali pertama melakukan penelitian mengenai rawa di Sumatera Selatan, mengalami kesulitan mendapatkan data. Pengalaman tersebut lantas mendorong guru besar dari Universitas Sriwijaya ini mendirikan museum mengenai rawa. Selengkapnya ....

 


Jalan-Jalan ke Museum Trinil, Yuk...

 

Madiunpos.com, NGAWI – Ada beberapa tempat di Indonesia yang memamerkan kehidupan pada masa prasejarah. Museum Trinil adalah salah satu tempat yang menampilkan kehidupan masa prasejarah itu dan menjadi andalan pariwisata Ngawi. Selengkapnya ....

Prasasti

PRASASTI ULUBELU

 

Prasasti Ulubelu adalah salah satu dari prasasti yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sunda dari abad ke-15 M, yang ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung, Lampung pada tahun 1936. Prasasti Ulubelu saat ini disimpan di Museum Nasional, dengan nomor inventaris D.154.Read more ....

 

Tutur Luhur

  • Ir. Soekarno

     Ir SoekarnoAlangkah terharunja hati saja tatkala saja mengundjungi suatu museum di Mexico-city. Museum itu ialah museum Sedjarah Perdjoangan Nasional Mexico. Saja terharu Read more......
  • Susilo Bambang Yudhoyono

    sby pidato Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT karena pada sore hari ini kita dapat menyaksikan Peresmian Museum Jenderal Besar Doktor Abdul Haris Nasution sebagai Read more .....
  • Sir Rudolf Bing

    Pada galibnya, kita serupa dengan museum. Aku juga terpanggil mempersembahkan karya masterpiece dalam sentuhan modern.
  • Pablo Picasso 


    Berilah aku sebuah museum dan aku akan mengisinya dengan karya adiluhung

Kabar Museum

Gelar Pertemuan Nasional, AMI Bahas Managemen Pengelolaan Museum

Gelar Pertemuan Nasional, AMI Bahas Managemen Pengelolaan Museum

 

Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan Kebudayaan menggelar Pertemuan Nasional Museum, yang bertema Museum Sebagai Sumber Belajar dan Pendidikan Karakter Bangsa di Yogyakarta 16 – 19 Mei 2017 di hotel Sahid Rich Yogyakarta.

Read more...

400 Pengelola Museum Bahas Permuseuman di Indonesia

400 Pengelola Museum Bahas Permuseuman di Indonesia

 

Indonesia memiliki ratusan museum baik yang dikelola pemerintah, swasta maupun perorangan. Namun banyak museum yang kondisinya kurang perhatian dan jarang dikunjungi masyarakat. Masalah managemen pengelolaan menjadi masalah penting bagi museum di Indonesia.

Read more...

Jogja Tuan Rumah Pertemuan Nasional Museum Se-Indonesia 2017

Jogja Tuan Rumah Pertemuan Nasional Museum Se-Indonesia 2017

 

Jogjakarta menjadi tuan rumah Pertemuan Nasional Museum se-Indonesia 2017. Acara yang digelar Sahid Rich Hotel, Jalan Magelang, 16-19 Mei ini diselenggarakan oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kerja sama dengan Pemprov DIJ dan Asosiasi Museum Indonesia (AMI).

Read more...

Indonesia Bisa Contoh Singapura dan Eropa Kembangkan Museum

Indonesia Bisa Contoh Singapura dan Eropa Kembangkan Museum

Komisi X DPR memberikan catatan kepada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud mengenai perkembangan museum. Salah satunya mengenai data dan informasi Lembaga museum bagi masyarakat.

Read more...

Liburan Natal, Museum Brawijaya Jadi Perhatian Khusus Para Wisatawan

Liburan Natal, Museum Brawijaya Jadi Perhatian Khusus Para Wisatawan

 

MALANGTIMES - Liburan Natal dan Tahun Baru tahun ini, Kota Malang dibanjiri wisatawan dari berbagai daerah. Banyak tempat di Kota Malang yang menjadi perhatian khusus para wisatawan. Salah satunya adalah Museum Brawijaya Malang.

Read more...

12 TAHUN TSUNAMI ACEH: Peringati 12 Tahun, Museum Tsunami Dibuka Malam Hari

12 TAHUN TSUNAMI ACEH:

Peringati 12 Tahun, Museum Tsunami Dibuka Malam Hari

 

GEMPA dan tsunami di Aceh yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 silam sudah lewat 12 tahun. Meski telah berlalu, tetapi ini tidak layak untuk dilupakan begitu saja. 

Read more...

Dinobatkan Jadi Bapak Permuseuman Indonesia, SBY Bicara Cinta Sejarah

Dinobatkan Jadi Bapak Permuseuman Indonesia, SBY Bicara Cinta Sejarah

Jakarta - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianugerahi gelar oleh Asosiasi Museum Indonesia (AMI) sebagai Bapak Permuseuman Indonesia. Penghargaan ini diberikan karena kontribusinya dalam mengawal perkembangan museum Nusantara.

Read more...

Kehadiran Museum Belum Sentuh Masyarakat Secara Luas

Kehadiran Museum Belum Sentuh Masyarakat Secara Luas

 

Saat ini museum belum bisa memberikan manfaat banyak kepada masyarakat. Foktor penyebabnya museum belum bisa mengkomunikasikan secara baik kepada lingkungan.

Read more...

Titik Pandang

MEMULIAKAN KEINDONESIAAN KITA

Oleh : Supadma Rudana*

 

Salam Bhinneka Tunggal Ika

 

Ketum AMIMedia sederhana ini merupakan bagian dari pelaksanaan program dan agenda Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Pusat yang bermuara pada satu sasaran utama, yakni pembangunan karakter dan pekerti bangsa (nation and character building) sebagai landasan terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil, makmur, bermartabat, semulia cita-cita para founding father. Read more ....

Ulas Gagasan

KEMENTERIAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
(Impian Lama yang Belum Terwujud)

Oleh : Nunus Supardi (Pemerhati Kebudayaan)

 

 

Salah satu bidang yang setiap musim kampanye, baik calon legislatif (DPR dan DPRD) maupun calon pejabat eksekutif mulai dari calon bupati dan wakil bupati, calon walikota dan wakil walikota sampai pada calon presiden dan wakil presiden, yang jarang disentuh sebagai materi kampanye adalah masalah kebudayaan. Kalau toh muncul, hanya sebatas kulitnya. Belum terungkap secara menyeluruh tentang arti dan peran kebudayaan, melainkan hanya sebatas kesenian saja. Tidak sampai pada perbincangan mengenai seluruh aspek dan unsur yang terkandung dalam kebudayaan. Read More....

 

Ikuti Kami di :

facebook icon Ami Pusat atau 

 Twitter-Vector-Icon@asosiasimuseum