• screen 1 2
  • prambanan dan jam gadang
  • pura-wayang
  • Sawah dan danau 2
  • pelebon ami 1
  • photo ami 2 fl
  • photo ami 4 klentheng
  • photo ami 5 fl
  • photo ami 6
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi
  • photo by M. Bundhowi

SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI ASOSIASI MUSEUM INDONESIA (AMI) PUSAT

 

 

MENGUBAH PARADIGMA ENTREPRENEURSHIP

 MEWUJUDKAN PRIBADI LUHUR BERKARAKTER

 

 Oleh : Supadma Rudana*

 

  

Sebuah bangsa yang besar, demikian pula pribadi seseorang yang terpujikan dan berintegritas (terpercaya serta bermartabat), selalu dinyatakan karena memiliki karakter. Dalam pengertian paling dasar, karakter adalah segugusan nilai-nilai hakiki yang unggul, dan dalam prosesnya kemudian membentuk jati diri; merefleksikan keluhuran sikap dan perilaku yakni: beriman serta bertakwa, berbudi pekerti luhur, cerdas, berdisiplin, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian tangguh dan mandiri serta memiliki tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

 

Di samping nilai-nilai hakiki tersebut di atas, bangsa yang besar atau pribadi yang unggul, juga memiliki semangat, sikap serta perilaku yang senantiasa sigap dan tanggap memperbarui kualitas kemampuannya, yaitu meliputi: kemampuan  dalam produktivitas, kemampuan mengelola sumber daya, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerjasama, kemampuan menggunakan data dan informasi, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Dengan kata lain, upaya kita membentuk karakter dan pekerti bangsa, atau nation and character building, pada hakikatnya adalah mewujudkan sosok-sosok generasi muda atau manusia Indonesia yang merangkum ciri-ciri luhur dan unggul sebagaimana terurai di depan. Dalam rangka pembentukan karakter demikian itulah, dibutuhkan adanya pendidikan karakter, yaitu suatu sistem penanaman nilai-nilai hakiki kepada generasi muda yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai luhur dimaksud.

 

Hal ini sejalan dengan upaya membentuk sumber daya manusia yang unggul, terangkum dalam UU No 20 tahun 2003, yang menyatakan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat. Bahkan lebih dari itu, dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005 hingga 2015 dinyatakan bahwa pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk visi pembangunan nasional, yaitu masyarakat berahlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab.

 

Nilai-nilai luhur yang membentuk jati diri bangsa atau kepribadian seseorang sesungguhnya tidak dengan serta merta terwujud dalam seketika, melainkan tumbuh dalam proses yang panjang, selaras dengan dinamika kehidupan masyarakat di gugusan kepulauan Nusantara yang kemudian disebut Indonesia, dimulai dari Masa Prasejarah; Masa Kerajaan; Masa Perjuangan dan Pergerakan Kebangsaan; Masa Revolusi Kemerdekaan; dan Masa Perkembangan serta Pembangunan. Proses yang panjang tersebut tercermin juga melalui kekayaan-kekayaan kultural negeri ini, yang dalam tataran filosofis terangkum menjadi apa yang disebut sebagai local-local genius yang melahirkan kearifan lokal atau local wisdom. Dengan kata lain, sejarah perjalanan bangsa Indonesia merefleksikan kronologis perjalanan sejarah kebudayaan Nusantara.

 

 

Kebhinnekaan Kita: Peluang dan Tantangan

 

Bila kita terpanggil merenungkan, maka akan kian disadari bahwa NKRI memiliki anugerah kekayaan yang luar biasa. Letaknya sangat strategis, di antara dua benua, Australia dan Asia, serta dua samudera yakni Pasifik dan Indonesia. Wilayahnya begitu luas, terdiri dari lebih dari 17.504 pulau berukuran besar dan kecil, terentang dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote.

 

Tuhan telah berkenan melimpahkan karunia tidak terhingga ke tanah air tercinta ini. Bukan hanya panorama pegunungan, pantai dan lembahnya yang jelita, namun di dalamnya terkandung pula sumber daya alam yang nilainya sungguh tak terhingga. Belum lagi berbagai suku bangsa yang mendiaminya, dengan adat istiadat, bahasa, agama serta mahakarya kebudayaan dan kesenian yang beraneka ragam, masing-masing kaya akan warna, rupa dan dinamika. Semuanya terhampar dalam jalinan kebersamaan: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. Berbeda-beda namun tetap satu jua, Bhinneka Tunggal Ika.

 

Di sisi lain, bila kita merenungkan lebih dalam lagi, sejalan dengan syukur dan kekaguman, betapa besar tanggungjawab semua pihak, khususnya generasi muda,  untuk menjaga keutuhan NKRI, menghayati Pancasila dan UUD 1945, menegakkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam keBhinnekaan yang Tunggal Ika. Derasnya globalisasi dengan nilai-nilai paradoks yang menyertainya adalah tantangan sekaligus peluang. Bila kita lalai, abai dan tak hati-hati dalam meniti arus sejarah ini, bukan mustahil semangat kebersamaan yang telah dirintis dengan susah payah oleh para pendiri bangsa atau founding fathers, cepat atau lambat akan terkikis dan tergerus.

 

Mencermati berbagai hal tersebut, adalah suatu tindakan yang strategis guna mengembangkan karakter melalui pendidikan nasional yang terencana, terukur dan terarah serta tepat guna, di mana kita dapat menyemai sumber daya manusia yang unggul, memiliki jati diri dan berkepribadian terpuji yang sarat dengan prestasi.

 

Pendidikan karakter ini juga diharapkan mampu menumbuhkembangkan suatu nilai-nilai solidaritas penuh toleransi serta penghormatan akan keberagaman. Terlebih lagi, kita adalah negara yang masyarakatnya terbilang majemuk, multietnis dan multikultur, boleh dikata cukup riskan akan munculnya benih-benih perpecahan. Sedari proklamasi dikumandangkan hingga kini, keseharian kita selalu dibayang-bayangi benturan berbagai kepentingan, ketegangan antara mayoritas dan minoritas, prasangka dan praduga yang berujung pada kesalahpahaman yang berkepanjangan.

 

Di samping itu, kita juga mencatat bahwa dalam perjalanan bangsa ini tidak lepas adanya intrik politik serta kepentingan-kepentingan kelompok yang mengalahkan kepentingan bangsa, termasuk di dalamnya ialah pudarnya rasa nasionalisme. Semua ini menimbulkan pertanyaan yang mendasar, yang menjadi salah satu pendorong terlaksananya Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia tahun 2012, sebuah peristiwa bersejarah yang semoga kelak, sebagaimana Sumpah Pemuda tahun 1928, terus-menerus memberikan inspirasi luhur bagi perjalanan peradaban negeri ini. Pertanyaan mendasar kita adalah: akan kemanakah atau dibawakah kemanakah bangsa dan negara ini?

 

Menjawab pertanyaan itu, sekaligus problematik sosial budaya yang menyertainya, maka kita layak mengembangkan suatu kesadaran bersama, bagaimana menciptakan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, yang siap berkompetisi dan bersaing secara global, di tengah percepatan perubahan yang disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi dewasa ini.

 

 

Kesadaran bersama itu meliputi kegiatan-kegiatan pemberdayaan generasi muda, sinergisitas antarbidang dan lintas kultural menuju masyarakat Indonesia yang kreatif dan produktif. Sehingga capaian prestasi yang diraih bukanlah semata membentuk manusia yang mencapai kesuksesan lahiriah atau A Person of Success melainkan A Person of Value atau manusia luhur, bernilai dan berkarakter unggul, di mana kearifan lokal atau local wisdom, tidak berhenti sebagai slogan semata atau filosofi, melainkan terekspresikan sebagai perilaku keseharian manusia Indonesia yang cerdas berkualitas secara intelektual (Intelligence Quotient), emosional dan sosial (Emotional Quotient), sekaligus spiritual (Spiritual Quotient).

 

 

Manusia Sukses sekaligus Bernilai (Entrepreneurship)

 

Upaya mewujudkan manusia yang sukses sekaligus bernilai tersebut melalui pendidikan karakter adalah sejalan dengan upaya mengaplikasikan nilai-nilai hakiki dan kearifan dalam ekspresi perilaku kita. Salah satu kelemahan mendasar sebagai bangsa yang tengah bertransformasi dari masyarakat berbudaya agraris komunal menuju masyarakat industri modern yang cenderung individual, adalah belum terbentuknya sikap kewirausahaan atau entrepreneurship yang mandiri dan penuh dedikasi. Konsep entrepreneurship macam apakah yang kita kembangkan, yang selaras dengan kultur masyarakat Indonesia, demi tercapainya cita-cita luhur bangsa yang gemah ripah loh jinawi?

 

Konsep kewirausahaan yang aplikatif sekaligus merefleksikan watak luhur bangsa yang guyub dan hangat, adalah kewirausahaan yang bersifat sosial atau social entrepreneurship yang dapat diimplementasikan dalam suatu program aksi berkelanjutan. Kewirausahaan ini menuntut suatu kemandirian yang lebih mengedepankan sinergisitas daripada keuntungan perseorangan semata atau kelompok tertentu belaka. Sehingga kemampuan melihat peluang yang dikembangkan adalah yang berbasis pada pengabdian atau panggilan yang lebih mulia dari sekadar mengumpulkan keuntungan finansial, yang hanya fokus pada sukses, tetapi abai akan Nilai. Program aksi social entrepreneurship yang berkelanjutan ini akan mendorong akselerasi perubahan bagi lingkungan sekitar secara signifikan; bermuara pada pembangunan Indonesia yang berbudaya (Indonesia Adibudaya). Di sinilah makna ‘Indonesia’ tidak hanya sebagai kata benda, melainkan juga sebuah kata kerja.

 

Dengan demikian, kewirausahaan sosial ini tidak terfokus pada kewirausahaan bidang ekonomi saja, tetapi juga sosial, budaya, politik serta bidang-bidang lain. Yang hakikatnya hendak dikembangkan adalah suatu sikap proporsionalisme dan profesionalisme, yang didasari atas semangat kemandirian yang penuh tanggungjawab. Sebagaimana para pelaku bidang ekonomi, entrepreneur di bidang politik, budaya, sosial, dan lain-lainnya, juga menghadapi rintangan dan tantangan yang memerlukan suatu solusi inovatif serta sinergi kreatif yang produktif.

 

 

Dalam konteks tersebut, yakni membentuk suatu jiwa social entrepreneurship melalui pendidikan karakter, penting diwacanakan dan sekaligus diaplikasikan adanya perubahan paradigma atau cara pandang secara mendasar, termasuk perubahan dalam pola pikir. Perubahan paradigma  atau pola pikir tersebut, adalah menghasilkan kreasi-kreasi inovatif yang bermanfaat bagi pembangunan suatu bangsa, melibatkan para ahli untuk melakukan kajian secara tepat guna, sebuah pengembangan pemikiran yang thinking outside of the box yakni berpikir ke depan secara kreatif dan visioner (excellent vision).

 

A.Social Entrepreneur bidang Kebudayaan dan Kesenian

 

Adanya perubahan paradigma akan makna entrepreneurship,  membuka peluang bagi para wirausahawan guna mengelola bidang kebudayaan dan kesenian dengan semangat pengabdian.  Jiwa entrepreneurship dalam konteks ini adalah sebentuk kemampuan untuk mengelola nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam mahakarya kebudayaan dan kesenian Indonesia, buah cipta dari para seniman-seniman tradisi mumpuni maupun kreator-kreator modern yang piawai.

 

 

Beruntung kita dapat melihat dan mempelajari karya-karya maestro tersebut yang sebagian besar menjadi koleksi dari museum-museum di tanah air. Keberadaan museum-museum telah mendorong pengunjung untuk merenung dan mendalami berbagai artefak yang mencerminkan dinamika kehidupan masyarakat Nusantara mulai dari: (1) Masa Prasejarah; (2) Masa Kerajaan; (3) Masa Perjuangan dan Pergerakan Kebangsaan; (4) Masa Revolusi Kemerdekaan; (5) Masa Perkembangan dan Pembangunan. 

  

Tidak sebagaimana yang dibayangkan oleh masyarakat awam, museum terbukti dapat difungsikan sebagai laboratorium kebudayaan, di mana para ahli, pakar aneka bidang dan generasi muda dapat mengembangkan ide-ide kreatif serta gagasan-gagasan entrepreneurship yang cerdas berdasarkan suatu telaah yang mendalam terhadap apa yang telah dicapai oleh leluhur melalui karya-karya berupa apapun yang menjadi koleksi museum. Laboratorium itu memungkinkan pula suatu kajian dan program akademis yang tepat guna untuk mengembangkan pemikiran yang menghasilkan kreasi-kreasi inovatif yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa.

 

 

Program dan agenda enterpreneurship di bidang kebudayaan dan kesenian dapat berupa pameran, dialog, penerbitan atau pertunjukan.  Yang dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan, mengundang budayawan, tokoh dan pakar berbagai bidang yang memiliki perhatian pada kemajuan kebudayaan dan pendidikan di Indonesia. Melalui kegiatan yang mentradisi tersebut, diharapkan tersemai gagasan-gagasan bernas, cerdas, dan visioner serta mencerahkan, sehingga melahirkan agenda-agenda aksi yang terarah, terukur dan terpadu.

 

Namun, guna mewujudkan gagasan menjadi tindakan serta aksi yang nyata, perlu dikedepankan semangat sinergisitas berbagai pihak, di antaranya melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, lembaga-lembaga ataupun pusat penelitian kebudayaan, institusi pendidikan serta edukasi lainnya di Indonesia dan juga berbagai komunitas seni budaya di Nusantara. Melalui upaya keterpaduan ini, diharapkan dapat terjalin suatu hubungan yang saling mendukung, sehingga memungkinkan terjadinya akselerasi penyebaran gagasan serta implementasi nilai-nilai luhur kultural bangsa dalam kehidupan kemasyarakatan kita.

 

B.Social Entrepreneur bidang Gagasan dan Idealisme

 

Sebagai bangsa yang tengah membangun sistem demokrasinya agar lebih sehat dan kuat, patutlah mampu mengelola 4 (empat) pilar utama penyangganya, yakni keberadaan partai politik, media massa, partisipasi publik, dan supremasi hukum. Keempat pilar tersebut, sesungguhnya bermuara ke satu hal yang Hakiki yakni pentingnya menegakkan Gagasan dan Idealisme sebagai keniscayaan bermasyarakat dan bernegara.

 

 

Maka entrepreneurship di bidang Gagasan dan Idealisme, selaras dengan upaya-upaya pencerdasan masyarakat melalui kegiatan semacam dialog budaya termasuk bentuk-bentuk interaksi kaum cendekiawan dan pemerhati sosial budaya di ruang publik lainnya. Hal mana ini diperjuangkan menjadi sebentuk tradisi pengembangan intelektual dengan topik-topik yang lebih fokus serta rekomendasi solusi yang bisa langsung turut membantu menyelesaikan berbagai masalah dan problematik di masyarakat. Sejalan dengan itu pula, layak dikembangkan suatu semangat penghormatan atas gagasan atau buah pikiran seseorang sebagai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang harus dilindungi. Dengan demikian apabila menyadur atau mengutip konsep orang lain, secara etika dan kaidah hukum, kita juga sepatutnya mencantumkan nama yang bersangkutan; langsung ataupun tidak, akan memberikan nilai tambah ekonomi tersendiri.

 

 

Sehingga social entrepreneurship di bidang Gagasan dan Idealisme berhasil menjalankan program aksi pengembangan dan peningkatan pendidikan berkarakter atau penanaman nilai-nilai luhur pada khalayak luas, khususnya generasi muda. Para entrepreneur tersebut mampu menjadi  pelopor sekaligus inspirator, bukan hanya pembangunan karakter luhur manusia Indonesia, melainkan turut mengkonstruksi tatanan baru peradaban dunia yang mengedepankan perdamaian, kemanusiaan, solidaritas, kesetaraan serta keadilan.

 

C.Social Entrepreneur bidang Politik

 

Dalam upaya mengembangkan social entrepreneurship di bidang politik sekaligus mengembangkan sinergi kreatif yang produktif, perlu adanya perubahan cara pandang masyarakat, termasuk generasi muda, perihal dunia politik yang di-stigmatis-kan sebagai dunia yang penuh intrik, dan siasat licik alias kotor. Dunia politik seakan-akan hanya identik dengan perebutan kekuasaan antar figur-figur ambisius yang rakus dan menghalalkan segala cara. Padahal, martabat suatu bangsa, ditentukan juga oleh kehidupan politik dan perilaku politikusnya. Bukankah salah satu soko guru demokrasi yang sehat adalah kehidupan partai politik yang juga sehat sekaligus produktif.

 

 

Bila stigmatis terhadap dunia politik tidak didekonstruksi, maka yang terjadi adalah sebagaimana kenyataan sekarang ini, di mana partai-partai tidak didukung oleh proses kaderisasi yang berkualitas. Perekrutan keanggotaan semata dilakukan dengan mengedepankan pragmatisme yang jauh dari idealisme partai yang bermartabat. Sebagai akibat enggannya masyarakat dan generasi muda yang potensial memasuki dunia politik, maka partai-partai politik kini lebih direpotkan oleh polah tingkah kader yang bermasalah. Bagaimana mungkin kita mengembangkan suatu social entrepreneurship bidang politik yang berkualitas bila paradigma dan cara pandang masyarakat tidak diubah. Bidang politik memerlukan semangat kewirausahaan dimana para pelakunya berintegritas (terpercaya dan bermartabat).

 

Bila paradigma dan stigmatis terhadap politik dapat dijernihkan, kita dapat berharap akan lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa di segala bidang yang memiliki jiwa melayani yang dalam arti positif, mendahulukan kepentingan bersama atau bangsa di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Pemimpin yang memiliki jiwa besar untuk mengatakan mampu atau tidak mampu, bisa atau tidak bisa secara terbuka, ksatria secara penuh tanggungjawab. Dengan demikian, pemimpin-pemimpin kita akan mengabdi dengan visioner, didasari pemahaman akan kekayaan seni budaya warisan adihulung Nusantara, di dalamnya terkandung kekuatan spiritual maupun potensi finansial atau ekonomi.

 

 

Dialektika antara partai dan politikus serta masyarakat yang kritis, diyakini akan memperluas medan kesadaran baru dalam berbangsa dan bernegara, yang menjadikan era keterbukaan ini sebagai hal yang produktif, bukan semata pertikaian dan luapan kebencian lantaran berbeda ideologi atau pandangan. Bila ini berlangsung dalam suatu proses yang berkelanjutan, jelaslah demokrasi kita tidak akan terjebak pada sekadar prosedural, melainkan sungguh-sungguh mewarnai kehidupan keseharian sosial politik negeri ini. Terbuka peluang, melalui serangkaian tahapan dan proses itu, para politikus bermetamorfosis menjadi para negarawan.

 

REKOMENDASI AKSI

 

1.Perlu ditetapkan program-program aksi yang dapat mengasah kepribadian seseorang atau masyarakat agar memiliki karakter dasar yang terpujikan.

 

2.Perlu ditetapkan program-program aksi pengembangan karakter di mana kearifan lokal atau local wisdom di Nusantara, tidak berhenti sebagai slogan semata atau filosofi, melainkan terekspresikan sebagai perilaku keseharian manusia Indonesia yang paripurna.

 

3.Perlu dibangun upaya melakukan sinergi kreatif yang melibatkan seluruh potensi bangsa dalam semangat entrepreneurship yang mandiri dan bertanggungjawab secara lintas bidang, lintas kultural, serta lintas generasi.

 

 

  

  

*Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Pusat. Makalah ini disampaikan dalam Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia 2012, tanggal 6 – 9 November 2012 di Jakarta.

 

 

MELUHURKAN MUSEUM, MEMULIAKAN KEBUDAYAAN



-Kutipan pernyataan Putu Supadma Rudana (Ketua Umum AMI), dihadapan Para  Ibu Negara serangkaian Spouse Program KTT ASEAN, 18 November 2011-

 

 

 

RAPIMNAS AMI 2015

  • IMG-20151108-WA0005
  • IMG-20151108-WA0006
  • IMG-20151108-WA0009
  • IMG-20151108-WA0010
  • IMG-20151108-WA0013
  • IMG-20151108-WA0014
  • IMG-20151108-WA0008
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...
  • Klik untuk menyimak berita selengkapnya RAPIMNAS AMI 2015 ...

Kilas Pandang AMI

SELAYANG PANDANG MUNAS III ASOSIASI MUSEUM INDONESIA(AMI) & ANJANGSANA MUSEUM KETUA UMUM TERPILIH

Kilas Lintas Rakor AMIDA

  • IMG 4560
  • IMG 4485
  • IMG 4532
  • IMG 4589
  • IMG 4611
  • IMG 4614
  • IMG 4616
  • IMG 4621
  • IMG 4636
  • IMG 4637
  • IMG 4790
  • IMG 4800
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......
  • Klik untuk simak berita selengkapnya tentang Rakor AMIDA di TMII, 17-19 April 2015 .......

Dari Kami

  • Keluarga Besar Asosiasi Museum Indonesia Mengucapkan Selamat Hari Natal & Tahun Baru 2017.
    Semoga damai senantiasa menyertai kita. Salam Museum Di Hatiku.
  • Ingin tahu rumah budaya bangsa di seluruh Indonesia?
    Silakan klik:
     Profil Museum

logo AMI

Berbagi Melalui Media AMI

  • Buletin AMI Depan

  • AMI -final 10042015 checked-page-001

  • Teaser Media AMI



  • Ingin Media AMI dikirimkan ke museum/instansi Anda?

    Kabarkan kepada redaksi melalui:

    This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • Silakan Baca Media AMI edisi 2014. Unduh tersedia di sini.
  • Silakan Baca Media AMI edisi 2015. Unduh tersedia di sini.
  • Silakan Baca Media AMI edisi 2016. Unduh tersedia di sini.

Kertas Kerja Permuseuman

  • Teaser Presentasi Ketum AMI
  • Slide01
  • Teaser Presentasi AMIDA Sulawesi
  • Presentasi dari Ketua Umum AMI. Paparan arah kebijakan organisasi.
  • Paparan dalam kegiatan Rapat Kerja Kementerian Koordinator Maritim, Banten - Mei 2016.
  • Aspirasi dari AMIDA Sulawesi. Gagasan pengembangan permuseuman di daerah.

Paparan Para Pakar

  • Slide1
  • Teaser Presentasi Jefri Riwu Kore
  • Teaser Presentasi Harry Widianto
  • Teaser Presentasi Roy Suryo
  • Teaser Presentasi Firmansyah Lubis
  • Unduh makalah dari Komisi X DPR-RI, Ridwan Hisjam. Perspektif strategis perkembangan permuseuman.
  • Unduh makalah dari Komisi X DPR-RI, Jefirstson Riwu Kore. Pandangan mendalam atas museum di Nusantara.
  • Unduh presentasi dari Direktur PCBM Kemdikbud RI, Harry Widianto. Deskripsi komprehensif permuseuman kita.
  • Unduh paparan pakar telekomunikasi, Roy Suryo. Kemungkinan implementasi teknologi digital bagi kemajuan museum.
  • Unduh makalah dari Direktur e-Government, Firmansyah Lubis. Pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan museum.

AGENDA AMIDA

  • IMG-20151117-WA0007IMG-20151117-WA0008



Maestro

  • Obituari Taufiq Kiemas 
    (31 Desember 1942 - 8 Juni  2013)

    Obituari Taufiq kiemas
    Berpulang ke haribaan Tuhan, Bapak Taufik Kiemas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia. Kita kehilangan suri tauladan yang memuliakan bangsa.
  • OBITUARI MOH. AMIR SUTAARGA 
    (5 Maret 1928—1 Juni 2013)

    amir sutaargaKalangan permuseuman dan juga kebudayaan Indonesia kehilangan salah satu tokoh mumpuni, Moh Amir Sutaarga. Beliau berpulang kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa pada 1 Juni 2013 pukul 08.05 WIB di Jakarta. 

  • OBITUARI GATHUT DWI HASTORO 
    (3 Mei 1964 - 29 Maret 2016)

    224046 107043152717835 1902923 nTelah berpulang, Bapak Gathut Dwi Hastoro, Ketua AMIDA DKI Jakarta "Paramita Jaya", pada Selasa, 29 Maret 2016 sekitar pukul 21.10 WIB. Beliau yang juga lama mengabdi sebagai Ketua UPK Kota Tua Jakarta merupakan sosok pejuang dan pengabdi permuseuman Indonesia. 
  • Obituari Tri Prastiyo

    Tri PrastiyoKeluarga permuseuman Indonesia kembali kehilangan. Salah satu pejuang museum yang selama ini dikenal berdedikasi dalam mengelola Museum Kereta Api Ambarawa, Tri Prastiyo, dikabarkan berpulang ke sisi Tuhan Yang Maha Esa pada April 2016.
     

JELAJAH

Ingin Penelitian Rawa? Datang saja ke Museum Rawa Indonesia

 

Tahun 1993, Rubiyanto H Susanto, saat kali pertama melakukan penelitian mengenai rawa di Sumatera Selatan, mengalami kesulitan mendapatkan data. Pengalaman tersebut lantas mendorong guru besar dari Universitas Sriwijaya ini mendirikan museum mengenai rawa. Selengkapnya ....

 


Jalan-Jalan ke Museum Trinil, Yuk...

 

Madiunpos.com, NGAWI – Ada beberapa tempat di Indonesia yang memamerkan kehidupan pada masa prasejarah. Museum Trinil adalah salah satu tempat yang menampilkan kehidupan masa prasejarah itu dan menjadi andalan pariwisata Ngawi. Selengkapnya ....

Prasasti

PRASASTI ULUBELU

 

Prasasti Ulubelu adalah salah satu dari prasasti yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sunda dari abad ke-15 M, yang ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung, Lampung pada tahun 1936. Prasasti Ulubelu saat ini disimpan di Museum Nasional, dengan nomor inventaris D.154.Read more ....

 

Tutur Luhur

  • Ir. Soekarno

     Ir SoekarnoAlangkah terharunja hati saja tatkala saja mengundjungi suatu museum di Mexico-city. Museum itu ialah museum Sedjarah Perdjoangan Nasional Mexico. Saja terharu Read more......
  • Susilo Bambang Yudhoyono

    sby pidato Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT karena pada sore hari ini kita dapat menyaksikan Peresmian Museum Jenderal Besar Doktor Abdul Haris Nasution sebagai Read more .....
  • Sir Rudolf Bing

    Pada galibnya, kita serupa dengan museum. Aku juga terpanggil mempersembahkan karya masterpiece dalam sentuhan modern.
  • Pablo Picasso 


    Berilah aku sebuah museum dan aku akan mengisinya dengan karya adiluhung

Kabar Museum

Liburan Natal, Museum Brawijaya Jadi Perhatian Khusus Para Wisatawan

Liburan Natal, Museum Brawijaya Jadi Perhatian Khusus Para Wisatawan

 

MALANGTIMES - Liburan Natal dan Tahun Baru tahun ini, Kota Malang dibanjiri wisatawan dari berbagai daerah. Banyak tempat di Kota Malang yang menjadi perhatian khusus para wisatawan. Salah satunya adalah Museum Brawijaya Malang.

Read more...

12 TAHUN TSUNAMI ACEH: Peringati 12 Tahun, Museum Tsunami Dibuka Malam Hari

12 TAHUN TSUNAMI ACEH:

Peringati 12 Tahun, Museum Tsunami Dibuka Malam Hari

 

GEMPA dan tsunami di Aceh yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 silam sudah lewat 12 tahun. Meski telah berlalu, tetapi ini tidak layak untuk dilupakan begitu saja. 

Read more...

Dinobatkan Jadi Bapak Permuseuman Indonesia, SBY Bicara Cinta Sejarah

Dinobatkan Jadi Bapak Permuseuman Indonesia, SBY Bicara Cinta Sejarah

Jakarta - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianugerahi gelar oleh Asosiasi Museum Indonesia (AMI) sebagai Bapak Permuseuman Indonesia. Penghargaan ini diberikan karena kontribusinya dalam mengawal perkembangan museum Nusantara.

Read more...

Kehadiran Museum Belum Sentuh Masyarakat Secara Luas

Kehadiran Museum Belum Sentuh Masyarakat Secara Luas

 

Saat ini museum belum bisa memberikan manfaat banyak kepada masyarakat. Foktor penyebabnya museum belum bisa mengkomunikasikan secara baik kepada lingkungan.

Read more...

Gebyar Pesona Museum Nusantara Siap Majukan Budaya Indonesia

Gebyar Pesona Museum Nusantara Siap Majukan Budaya Indonesia

Menyambut Hari Nasional Museum Indonesia, Asosiasi Museum Indonesia menghadirkan kembali Gebyar Pesona Museum Nusantara (GPMN) ke dua pada 12-15 Oktober 2016 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Acara ini guna langkah awal menjadikan TMII sebagai Ibu Kota Kebudayaan.

Read more...

Anugerah Museum Awards 2016 di TMII

Anugerah Museum Awards 2016 di TMII 

 

Sebanyak 459 museum yang terdapat di 34 provinsi di Indonesia menjadi kajian menarik bagi Komunitas Jelajah selama 1 tahun 6 bulan terakhir. Setelah itu, dalam rangka menggaungkan Gerakan Cinta Museum, Komunitas Jelajah akan menyampaikan Anugerah Museum Awards 2016 di Taman Mini Indonesia(TMII), Jakarta. Kegiatannya dikemas dalam rangkaian Hari Museum Indonesia, 12-15 Oktober 2016. Hari Museum Indonesia ditetapkan jatuh pada tanggal 12 Oktober.

Read more...

Akhir Pekan, Mampir ke Gebyar Pesona Museum Nusantara di TMII

Akhir Pekan, Mampir ke Gebyar Pesona Museum Nusantara di TMII

Acara Gebyar Pesona Museum Nusantara digelar di Anjungan Kalimantan Barat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Acara yang diselenggarakan kali kedua ini bertema "Exotica of Borneo".

Read more...

Apa Pentingnya Mengunjungi Museum?

Apa Pentingnya Mengunjungi Museum?

Museum adalah salah satu obyek wisata yang bisa dikunjungi. Di dalamnya terdapat koleksi-koleksi peninggalan budaya yang beraneka ragam.

Read more...

Ulas Gagasan

KEMENTERIAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
(Impian Lama yang Belum Terwujud)

Oleh : Nunus Supardi (Pemerhati Kebudayaan)

 

 

 

I. PENDAHULUAN

 

 

Salah satu bidang yang setiap musim kampanye, baik calon legislatif (DPR dan DPRD) maupun calon pejabat eksekutif mulai dari calon bupati dan wakil bupati, calon walikota dan wakil walikota sampai pada calon presiden dan wakil presiden, yang jarang disentuh sebagai materi kampanye adalah masalah kebudayaan. Kalau toh muncul, hanya sebatas kulitnya. Belum terungkap secara menyeluruh tentang arti dan peran kebudayaan, melainkan hanya sebatas kesenian saja. Tidak sampai pada perbincangan mengenai seluruh aspek dan unsur yang terkandung dalam kebudayaan. Read More....

 

MENGUBAH PARADIGMA ENTREPRENEURSHIP

MEWUJUDKAN PRIBADI LUHUR BERKARAKTER

 

Oleh : Supadma Rudana*

 

Sebuah bangsa yang besar, demikian pula pribadi seseorang yang terpujikan dan berintegritas (terpercaya serta bermartabat), selalu dinyatakan karena memiliki karakter. Dalam pengertian paling dasar, karakter adalah segugusan nilai-nilai hakiki yang unggul, dan dalam prosesnya kemudian membentuk jati diri; merefleksikan keluhuran sikap dan perilaku  Read more ....

Ikuti Kami di :

facebook icon Ami Pusat atau 

 Twitter-Vector-Icon@asosiasimuseum